
Bungo (MTsN 4 Bungo)-Pada 3 November, siswa kelas VII b MTsN 4 Bungo melaksanakan kegiatan pengamatan dan praktik pembuatan telur asin. Kegiatan ini merupakan bagian dari pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang bertujuan untuk memperdalam pemahaman siswa mengenai konsep perubahan fisika dan kimia pada materi zat serta perubahannya yang diajarkan di kelas 7.
Selama praktik berlangsung, para siswa mengamati proses interaksi antara larutan garam (NaCl) dengan telur. Proses ini melibatkan dua jenis perubahan, yaitu perubahan fisika dan kimia. Perubahan fisika terjadi melalui mekanisme osmosis dan difusi. Osmosis adalah perpindahan molekul air dari dalam telur yang memiliki konsentrasi air lebih tinggi ke larutan garam di luar telur yang lebih pekat. Proses ini berlangsung melalui membran semipermeabel pada selaput kulit telur, sehingga sebagian air dari dalam telur, terutama bagian putih, keluar ke lingkungan sekitar.

Selain osmosis, proses difusi juga terjadi. Molekul garam dari larutan garam di luar telur yang berkonsentrasi tinggi bergerak masuk ke bagian dalam telur yang berkonsentrasi rendah. Garam masuk melalui pori-pori cangkang telur dan menyebar ke bagian putih serta kuning telur. Proses ini tidak hanya memberikan rasa asin pada telur, tetapi juga berperan penting dalam pengawetan karena garam dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme.
Dampak fisik dari proses penggaraman terlihat pada perubahan tekstur putih dan kuning telur yang menjadi lebih padat atau keras. Hal ini disebabkan oleh garam yang menarik air keluar dan berinteraksi dengan protein di dalam telur. Meskipun terjadi pengeluaran air, berat telur dapat sedikit bertambah karena adanya molekul garam yang masuk ke dalam telur selama proses penggaraman.
Selain perubahan fisika, proses penggaraman juga menyebabkan perubahan kimia pada telur. Salah satu perubahan kimia yang terjadi adalah denaturasi parsial protein, yaitu perubahan struktur protein akibat interaksi dengan garam. Denaturasi ini menyebabkan tekstur kuning telur menjadi lebih keras dan terasa lebih masir setelah dimasak. Garam juga memengaruhi pigmen pada kuning telur, sehingga warnanya berubah dari kuning menjadi jingga kecokelatan atau kemerahan setelah proses pemasakan.
Setelah proses penggaraman selesai, telur biasanya direbus atau dikukus. Pemanasan ini menyebabkan denaturasi protein secara permanen, sehingga putih dan kuning telur menjadi padat sepenuhnya seperti pada telur rebus biasa. Proses pemanasan ini merupakan perubahan kimia yang paling nyata karena struktur protein berubah secara permanen akibat panas.
Melalui kegiatan praktik ini, siswa dapat memahami secara langsung bagaimana konsep osmosis, difusi, dan perubahan kimia dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pembuatan telur asin menjadi contoh nyata interaksi antara zat yang dapat mengubah sifat fisik dan kimia bahan pangan. Selain itu, kegiatan ini juga memberikan manfaat tambahan seperti pengawetan dan perubahan rasa pada telur. Diharapkan, pengalaman praktik langsung ini dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi IPA sekaligus menumbuhkan minat belajar mereka melalui kegiatan yang aplikatif di lapangan.

Penyunting: An
Dok/Kontributor: Am
|
294x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Bungo dan Sekitarnya
Memuat tanggal...