Selamat Datang di Website Resmi MTS Negeri 4 Bungo # Selamat Hari Amal Bakti Kementerian Agama RI Ke-80 Tahun 2026 # Seluruh ASN Satker MTsN 4 Bungo Akan Hadiri Upacara HAB Ke-80 Di Lapangan Exs. MTQ Muara Bungo # Selamat Mengikuti Jambore Cabang Bungo Tahun 2025 # SELAMAT HARI SANTRI NASIONAL TAHUN 2025 # SELAMAT HARI ULANG TAHUN KE-60 KABUPATEN BUNGO TAHUN 2025 " BERSINERGI MEMBANGUN DAERAH, MEWUJUDKAN BUNGO BARU"

Akademik: Karya Ilmiah Guru


PENINGKATAN KETRAMPILAN

BERBICARABAHASA INGGRIS

MELAUI MODEL PEMBELAJARAN DEMONTRATION

BAGI SISWA KELAS IXC MTS NEGERI 4 BUNGO

TP 2019/ 2020

 

DI SUSUN OLEH

 

SRI MUKMINI,S.Ag

NIP.19720117 200604 2 015

 

 

 

 

 

 

MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI 4 BUNGO

KECAMATAN PELEPAT ILIR

KABUPATEN BUNGO

PROVINSI JAMBI

TAHUN 2019

 

DAFTAR ISI

                                                                                                             Halaman

HALAMAN JUDUL…………………………………………………………….. i

HALAMAN PENGESAHAN.. ii

SURAT PERNYATAAN.. iii

KATA PENGANTAR.. iv

DAFTAR LAMPIRAN.. v

DAFTAR ISI vi

BAB I PENDAHULUAN.. 1

1.1        Latar belakang Masalah. 1

2.1        Rumusan Masalah. 4

3.1        Tujuan Penulisan. 4

4.1        Manfaat Penelitian. 4

BAB II KAJIAN TEORI 5

1.1        Ketrampilan Berbicara Bahasa Inggris. 5

2.1        Model  pembelajaran Demonstration. 10

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN.. 13

3.1        Sasaran , tempat dan waktu. 13

3.2        Metode yang di gunakan. 13

3.3        Tahap pelaksanaan. 14

3.3.1.Perencanaan. 14

3.3.2.Observasi 15

3.3.3. Tindakan. 15

3.3.4.Hasil yang dicapai 18

BAB IV PENUTUP. 21

4.1        Kesimpulan. 21

4.2        Saran. 21

DAFTAR PUSTAKA.. 22

LAMPIRAN – LAMPIRAN.. 23

 

 

 

BAB I PENDAHULUAN

1.1  Latar belakang Masalah

 

Kemampuan berbahasa Inggris merupakan keharusan di era komunikasi dan globalisasi. Berkomunikasi adalah memahami dan mengungkapkan informasi, pikiran, perasaan, dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya. Kemampuan berkomunikasi dalam pengertian yang utuh adalah kemampuan berwacana, yakni kemampuan memahami dan/atau menghasilkan teks lisan dan/atau tulis yang direalisasikan dalam empat keterampilan berbahasa, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis (Permendiknas Nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi). Keempat keterampilan inilah yang digunakan untuk menanggapi atau menciptakan wacana dalam kehidupan bermasyarakat di era globalisasi.

Di era global seperti sekarang ini, akan semakin banyak perkembangan yang terjadi di negeri ini. Mulai dari perdagangan bebas, semakin banyaknya berdiri perusahaan-perusahaan asing di indonesia sehingga penggunaan bahasa internasional seperti bahasa inggris sudah sangat tersebar luas, tentunya untuk para calon entrepreneur dan pencari kerja sudah menjadi suatu keharusan untuk bisa menguasai bahasa Inggris agar bisa mengikuti perkembangan zaman di era globalisasi ini.

Hal ini menyiratkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam peningkatan kualitas bahasa Inggris sumber daya manusianya. Pendekatan yang masif dan pembangunan kesadaran akan peran bahasa Inggris sebagai bahasa asing yang paling banyak digunakan di dunia merupakan hal yang dibutuhkan sebagai usaha untuk memperbaiki kualitas sumber daya manusia di Indonesia.

Mempelajari bahasa ini bukan lagi menjadi satu kewajiban untuk mendapatkan nilai atau peringkat yang bagus di sekolah, namun juga sebagai pertahanan dalam menghadapi arus globalisasi yang kian menantang. Bahasa Inggris dapat membuka akses akan aset tanpa batas yang dibutuhkan oleh orang-orang di Indonesia.

Meningkatkan kemampuan bahasa Inggris dapat dilakukan dengan berbagai macam cara. Dewasa ini, dengan kemudahan teknologi dan kompetisi yang semakin meningkat di sektor pendidikan komersil, seharusnya generasi penerus bangsa mempunyai banyak kesempatan untuk memperbaiki kualitas masing-masing. (Tips, 2020)

Departemen Pendidikan  Nasional Indonesia memberlakukan pengajaran Bahasa Inggris sebagai bahasa asing. Hal tersebut disebabkan Bahasa Inggris tidak digunakan sebagai bahasa pengantar resmi pemerintah Indonesia dan pembelajarannya dilaksanakan manakala seseorang telah menguasai bahasa ibunya atau Bahasa Indonesia (Hidayat, 1990). Mengingat tujuan akhir belajar Bahasa Inggris adalah mampu berkomunikasi, baik secara lisan dan tulisan, secara formal maupun non formal. Pengertian berkomunikasi dimaksudkan memahami dan mengungkapkan informasi, pikiran, perasaan serta mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya dengan menggunakan bahasa tersebut. Ada empat kemampuan berbahasa yang digunakan untuk berkomunikasi, antara lain mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis.

Sebagai salah satu dari empat kemampuan berbahasa (the four language skills), kemampuan berbicara merupakan hal yang sangat penting, karena untuk menguasai suatu bahasa harus dimulai secara lisan atau ucapan karena bahasa lisan merupakan dasar dari penguasaan suatu bahasa.

Mengingat bahasa Inggris adalah bahasa International atau bahasa orang sedunia. Maka sangat penting sekali untuk bisa berbahasa tersebut. Di dalam bahasa Inggris terdapat beberapa bagian keterampilan, mulai dari speaking, reading, listening, structure or grammar etc. Nah, dari keempat skill atau kemampuan di atas semuanya adalah bagian terpenting dalam pembelajaran.

Nah, masalah yang umumnya terjadi adalah pada speaking atau kemampuan berbicara dengan bahasa Inggris. Perlu diingat belajar bahasa Inggris yang paling penting adalah praktik. Speaking merupakan bagian terpenting dalam bahasa Inggris karena ketika orang lain mengetahui kemampuan yang kita miliki dalam bahasa inggris adalah kemampuan berbicara atau speaking kita.

Tetapi, masalah yang sering muncul adalah tidak sedikit siswa  sulit untuk berbicara bahasa Inggris, banyak alasan dari permasalahan tersebut. Masalah yang paling sering terjadi yaitu pelajar sering kali tidak lancar dalam berbicara bahasa Inggris, yaitu

a)Kurangnya  kebiasaan untuk ngomong bahasa Inggris

b)Kurangnya rasa percaya diri  

c)Merasa ragu , takut dan malu  sehingga peserta didk  sering kali kelihatan mikir terlebih dahulu apa yang akan dibicarakan

d)urangnya vocabulary yang dimiliki serta kurangnyarasa percaya diri peserta didik..

Masalah –masalah tersebut juga dijumpai pada siswa Madrasah  Tsanawiyah Negeri 4 Bungo kelas IXC  Tahun Pelajaran 2019/2020 semester ganjil. Rendahnya ketrampilan/ kemampuan siswa berbicara bahasa inggris akan  berdampak kepada rendahnya  hasil belajar.

Dari permasalahan-permasalahan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa praktik adalah hal yang terpenting dalam speaking. Terbiasa berbicara bahasa Inggris  dan rasa percaya diri serta penguasaan kosa akan membantu banyak permasalahan dalam speaking. Melalui model pembelajaran  demontration diharapkan dapat menjadi solusi bagi siswa  untuk melatih Berbicara Bahasa Inggris ( speaking).

2.1  Rumusan Masalah

 

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka rumusan masalah dalam penulisan ini dapat dirumuskan sebagai berikut :

  1. Bagaimanakah membiasakan siswa kelas IXC MTs N 4 Bungo berbahasa inggris dengan penuh rasa percaya diri?
  2. Bagaimanakah penerapan model pembelajaran demonstration dalam meningkatkan ketrampilan  berbahasa inggris siswa kelas IX MTs N 4 Bungo?

3.1  Tujuan Penulisan

Penulisan makalah ini bertujuan untuk:

  1. Memberikan gambaran tentang bagaimana membiasakan siswa kelas IXC berbahasa inggris dengan penuh rasa percaya diri.
  2. Menguraikan tentang implementasi model pembelajaran Demonstration dalam meningkatkan ketrampilan berbahasa ingrris siswa kelas IXC MTs N 4 Bungo.

4.1  Manfaat Penelitian

 

              Manfaat Penelitian ini antara lain:

  1. Dapat Mengembangkan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) seperti yang diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen serta Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negera dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya.
  2. Dapat melaksanakan pembelajaran dengan dengan model dan tujuan yang sama di kelas lain.
  3. Memberikan acuan kepada kepala madrasah dalam pelaksanaan supervisi akademik
  4. Memberikan acuan kepada pengawas madrasah dalam pelaksanaan supervisi akademik .

 

 

BAB II KAJIAN TEORI

2.1  Ketrampilan Berbicara Bahasa Inggris

  • Ketrampilan

Pengertian

Keterampilan berasal dari kata “terampil” yang artinya cakap, mampu, dan cekatan.  Menurut Iverson (2001) keterampilan membutuhkan pelatihan dan kemampuan dasar yang dimiliki setiap orang agar dapat lebih membantu menghasilkan sesuatu yang lebih bernilai dengan lebih cepat.

Skill atau keterampilan adalah kemampuan untuk menggunakan akal, pikiran, ide dan kreatifitas dalam mengerjakan, mengubah maupun untuk membuat sesuatu yang lebih bermakna sehingga menghasilkan sebuah nilai dari hasil pekerjaan tersebut.

Selain itu skill juga dapat diartikan sebagai kemampuan untuk menterjemahkan pengetahuan kedalam praktik sehingga  akan tercipta kinerja yang diinginkan. Berikut beberapa pengertian keterampilan menurut para ahli:

  • Gordon, skill merupakan kemampuan untuk mengoperasikan pekerjaan secara mudah dan tepat
  • Nadler, skill kegiatan yang memerlukan praktek atau dapat diterjemahkan sebagai implikasi dari aktivitas
  • Higgins, skill adalah kemampuan dalam tindakan dan memenuhi suatu tugas
  • Iverson, skill adalah kemampuan untuk melakukan pekerjaan secara mudah dan tepat.

Dari beberapa pengertian diatas, maka dapat disimpulkan skill adalah kemampuan untuk mengoperasikan suatu pekerjaan secara mudah dan cermat.

Menurut Robbins, keterampilan dibedakan menjadi 4 kategori:

  1. Basic Literacy skill : merupakan keahlian dasar yang sudah pasti harus dimiliki setiap orang, misalnya membaca, menulis, berhitung, mendengarkan dan lain sebagainya.
  2. Technical skill, adalah keahlian secara teknis yang diperoleh melalui pembelajaran dalam bidang teknik seperti mengoperasikan komputer maupun alat alat digital lainnya.
  3. Interpersonal skill: merupakan keahlian setiap orang dalam berkomunikasi antara satu dengan yang lain seperti mendengarkan seseorang, memberi pendapat, maupun bekerja secara tim.
  4. Problem solving, adalah keahlian seseorang dalam memecahkan masalah melalui logika maupun perasaan.(Elizaberth, 2017)

Faktor-faktor yang mempengaruhi ketrampilan

Menurut Widyatun (2005), terdapat tiga faktor yang mempengaruhi keterampilan secara langsung.

1.Motivasi

Merupakan sesuatu yang dapat membangkitkan keinginan dalam diri seseorang untuk melakukan berbagai tindakan. Melalui motivasi ini seseoang akan terdorong untuk melakukan sesuai dengan prosedur yang sudah diajarkan.

2.Pengalaman

Melalui pengalaman dapat memperkuat kemampuan seseorang dalam melakukan sebuah tindakan (keterampilan). Pengalaman membangun seseorang untuk dapat melakukan tindakan-tindakan selanjutnya menjadi lebih baik dikarenakan telah melakukan tindakan-tindakan dimasa lampau.

3.Keahlian

Keahlian yang dimiliki seseorang akan membuat orang tersebut lebih terampil dalam melakukan keterampilan tersebut. Melalui keahlian yang dimiliki juga akan membuat seseorang mampu melakukan sesuatu sesuai dengan yang sudah diajarkan.

Macam Jenis Keterampilan

Sekarang ini, keterampilan itu menjadi hal yang sangat penting terutama bagi seseorang yang ingin bisa mencari pekerjaan. Beragam keterampilan serta juga pengalaman kerja juga turut menjadi sebuah penilaian tersendiri. Beberapa keterampilan yang biasanya diinginkan oleh perusahaan serta harus dimiliki oleh para pencari kerja ialah sebagai berikut:

  1. Kesadaran komersial, ialah memiliki naluri bisnis yang tajam.
  2. Komunikasi, baik verbal atau juga tertulis.
  3. Kerja tim, kita diharuskan untuk dapat mengelola serta bisa bertanggung jawab didalam sebuah tim.
  4. Negosiasi serta persuasi.
  5. Memecahkan masalah.
  6. Kepemimpinan.
  7. Organisasi.
  8. Ketekunan dan juga motivasi.
  9. Kemampuan untuk dapat bekerja di bawah tekanan serta dapat tetap tenang dalam menghadapi krisis.
  10. Kepercayaan diri. (Ibeng, 2020)

Jadi kesimpulannya bahwa keterampilan ini kita sudah miliki dasarnya sejak kecil tinggal kita dapat mengasah secara terus menerus dengan tekun dan disiplin supaya dapat mencapai hasil yang maksimal. 

  • Berbicara

A)Pengertian

Pengertian berbicara  adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan  (Tarigan, 2008:16). Pengertian tersebut menunjukkan dengan jelas bahwa berbicara berkaitan dengan pengucapan kata-kata yang bertujuan untuk menyampaikan apa yang akan disampaikan baik itu perasaan, ide atau gagasan.

 

   Definisi berbicara juga dikemukakan oleh Brown dan Yule dalam Puji Santosa, dkk (2006:34). Berbica adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi bahasa untuk mengekspresikan atau menyampaikan pikiran, gagasan atau perasaan secara lisan. Pengertian ini pada intinya mempunyai makna yang sama dengan pengertian yang disampaikan oleh Tarigan yaitu bahwa berbicara berkaitan dengan pengucapan kata-kata.

 

Haryadi dan Zamzani (2000:72) mengemukakan bahwa secara umum berbicara dapat diartikan sebagai suatu penyampaian maksud (ide, pikiran, isi hati) seseorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa lisan sehingga maksud tersebut dapat dipahami orang lain. Pengertian ini mempunyai makna yang sama dengan kedua pendapat yang diuraikan diatas, hanya saja diperjelas dengan tujuan yang lebih jauh lagi yaitu agar apa yang disampaikan dapat dipahami oleh orang lain. (Riadi, 2013)

 

b)Tujuan Berbicara

Tujuan utama berbicara adalah untuk berkomunikasi. Komunikasi merupakan pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami. Oleh karena itu, agar dapat menyampaikan pesan secara efektif, pembicara harus memahami apa yang akan disampaikan atau dikomunikasikan. Tarigan juga mengemukakan bahwa berbicara mempunyai tiga maksud umum yaitu untuk memberitahukan dan melaporkan (to inform), menjamu dan menghibur (to entertain), serta untuk membujuk, mengajak, mendesak dan meyakinkan (to persuade).

Gorys Keraf dalam St. Y. Slamet dan Amir (1996: 46-47) mengemukakan tujuan berbicara diantaranya adalah untuk meyakinkan pendengar, menghendaki tindakan atau reaksi fisik pendengar, memberitahukan, dan menyenangkan para pendengar. Pendapat ini tidak hanya menekankan bahwa tujuan berbicara hanya untuk memberitahukan, meyakinkan,  menghibur, namun juga menghendaki reaksi fisik atau tindakan dari si pendengar atau penyimak.

Berdasarkan beberapa pendapat yang telah dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa tujuan berbicara yang utama ialah untuk berkomunikasi. Sedangkan tujuan berbicara secara umum  ialah untuk memberitahukan atau melaporkan informasi kepada penerima informasi, meyakinkan atau mempengaruhi penerima informasi, untuk menghibur, serta menghendaki reaksi dari pendengar atau penerima informasi.

  • Bahasa Inggris

 

Bahasa Inggris merupakan bahasa yang digunakan sebagai media komunikasi dan sebagai bahasa Internasional pertama yang digunakan untuk berinteraksi dengan orang lain di seluruh dunia.

Bahasa Inggris adalah bahasa yang berasal dari Inggris raya. Bahasa inggris merupakan kombinasi dari beberapa bahasa lokal yang sering dipakai oleh masyarakat Norwegia, Denmark, dan Anglo-Saxon pada abad ke-6 sampai abad ke-10 dulu. Hingga ditaklukkan Inggris oleh William the Conqueror pada tahun 1066, bahasa Inggris pun mulai sangat intensif mempengaruhi bahasa Latin juga bahasa Perancis. Dari seluruhan kosakata bahasa inggris modern, diperkirakan ±50% berasal dari bahasa Perancis dan Latin.

Saat ini, bahasa Inggris telah menjadi media komunikasi utama bagi masyarakat di berbagai negara di dunia, seperti Inggris, Amerika Serikat, Kanada, Australia, New Zealand, Afrika Selatan, serta masih banyak lagi negara yang mejadikan bahasa inggris sebagai media komunikasi utama negara mereka.

Sebagai bahasa yang paling banyak dipakai di berbagai negara di dunia, bahasa inggris sudah dianggap sebagai bahasa resmi untuk dipakai di dunia internasonal. Bahasa yang juga hampir sama populernya seperti bahasa inggris adalah bahasa mandarin.

Bahasa Inggris termasuk rumpun bahasa-bahasa Anglo-Frisia pada cabang barat bahasa-bahasa Jerman, dan merupakan sebuah bahasa subfamili dari bahasa-bahsa Indo-Eropa.

Bahasa Inggris hampir mendekati bahasa Frisia, sedikit lebih luas dari bahasa Netherlandic (Belanda –Flemish) dan dialek Jerman tingkat rendah (Plattdeutsch), serta jauh dari bahasa Jerman Modern tingkat tinggi.

Saat ini, penggunaan bahasa inggris bukan digunakan sebagai penghubung bahasa komunikasi antar negara saja, tapi juga sudah mulai merambah ke berbagai bidang lain, contohnya media massa. Pada jaman yang telah modern ini, telah banyak media massa yang menggunakan bahasa inggris dalam mempublikasikan berita serta hal-hal unik lainnya. Untuk itulah sebagai bangsa yang ingin maju, kita juga harus sanggup berbicara dalam bahasa inggris agar jika suatu hari diperlukan, kita akan dengan mudah mengerti apa yang ingin disampaikan dunia.

2.2  Model  pembelajaran Demonstration

 

Seiring dengan perkembangan jaman, manusia dituntut agar semakin dinamis dan peka terhadap perkembangan tersebut. Untuk meningkatkan kepekaan dan kedinamisannya, manusia mulai berpikir dan mencoba untuk membuat suatu terobosan diberbagai bidang. Sehingga pada akhirnya manusia tidak menjadi korban perubahan Zaman, tetapi mampu mengendalikan perubahan tersebut untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik. Dan semua itu hanya dapat dilakukan jika mempunyai bekal pendidikan dan pengetahuan.

Salah satu terobosan tersebut adalah dibidang pendidikan. Agar kedepannya proses pembelajaran menjadi menyenangkan dan memberi banyak manfaat bagi kehidupan manusia, maka mulai muncul dan berkembang berbagai metode pembelajaran yang dikatakan dapat  mempercepat penerimaan dan pemahaman peserta didik terhadap materi yang diajarkan. .Metode-metode tersebut salah satunya antara lain metode demonstrasi. Di sini kita akan membahas tentang metode  pembelajaran demonstrasi.

Metode demonstrasi merupakan metode yang paling sederhana dibandingkan dengan metode-metode mengajar lainnya. Metode ini lebih sesuai untuk mengajarkan bahan-bahan pelajaran yang merupakan suatu gerakan-gerakan suatu proses maupun hal-hal yang bersifat rutin. Dalam demonstrasi diharapkan setiap langkah dari hal-hal yang didemonstrasikan itu dapat dilihat dengan mudah oleh murid dan melalui prosedur yang benar. Demonstrasi dilakukan  bagi materi yang memerlukan peragaan atau percobaan. Dalam demonstrasi terutama dalam rangka pengembangan sikap, guru perlu merencanakan pendekatan secara lebih berhati-hati dan ia memerlukan kecakapan untuk mengarahkan motivasi dan cara berfikir siswa.

Metode demonstrasi ini merupakan metode penyajian pelajaran dengan memperagakan dan mempertunjukkan kepada siswa tentang suatu proses, situasi atau benda tertentu, baik sebenarnya atau hanya sekedar tiruan (Sanjaya, 2006: 52).

Menurut Muhibbin Syah (1995: 208), metode demonstrasi adalah cara pembelajaran dengan meragakan, mempertunjukkan atau memperlihatkan sesuatu di hadapan murid di kelas atau di luar kelas. (Roestiyah, 2001)

Sedangkan menurut Martnis Yamin(2003:65), penggunaan demonstrasi dapat diterapkan dengan syarat memiliki keahlian untuk mendemonstrasikan penggunaan alat atau melaksanakan kegiatan tertentu seperti kegiatan sesungguhnya. Keahlian mendemonstrasikan tersebut harus dimiliki oleh guru untuk kemudian siswa diberi kesepakatan untuk melakukan latihan/keterampilan seperti yang telah diperagakan oleh guru.

Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan metode pembelajaran demonstrasi dalam  proses belajar mengajar adalah  metode yang digunakan oleh seorang guru atau orang luar yang sengaja didatangkan atau murid sekalipun untuk mempertunjukkan gerakan-gerakan atau suatu proses dengan prosedur yang benar disertai keterangan-keterangan kepada seluruh siswa.

Dalam Modrl pembelajaran Demonstration  terdapat kelebihan dan kekurangan, antara lain:

1.Kelebihan:

  1. Demonstrasi dapat mendorong motivasi belajar peserta didik.
  2. Demonstrasi dapat menghidupkan pelajaran karena peserta didik tidak hanya mendengar tetapi juga melihat peristiwa yang terjadi.
  3. Demonstrasi dapat mengaitkan teori dengan peristiwa alam lingkungan sekitar. Dengan demikian peserta didik dapat lebih meyakini kebenaran materi pelajaran.
  4. Demonstrasi apabila dilaksanakan dengan tepat, dapat terlihat hasilnya.
  5. Demonstrasi seringkali mudah teringat daripada bahasa dalam buku pegangan atau penjelasan pendidik.
  6. Melalui demonstrasi peserta didik terhindar dari verbalisme karena langsung memperhatikan bahan pelajaran yang dijelaskan.

2.Kelemahan:.

  1. Peserta didik terkadang sukar melihat dengan jelas benda yang akan dipertunjukkan.
  2. Tidak semua benda dapat didemonstrasikan.
  3. Sukar dimengerti apabila didemonstrasikan oleh guru yang kurang menguasai apa yang didemonstrasikan.
  4. Demonstrasi memerlukan persiapan yang lebih matang, sebab tanpa persiapan yang memadai demonstrasi bisa gagal sehingga dapat menyebabkan model ini tidak efektif lagi.

 

 

 

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1  Sasaran , tempat dan waktu

  • Sasaran

Subjek langsung dalam penelitian ini adalah siswa-siswa yang belajar dikelas IX C Madrasah Tsanawiyah Negeri 4 Bungo  yang diamati sebagai responden untuk  pengambilan penilaian kemampuan berbicara, yang dipilih secara acak. Hal ini disebabkan keterbatasan waktu untuk  penilaian.

  • Tempat dan waktu

Tempat pelaksanaan penelitian  Best Parctice adalah di Madrasah Tsanawiyah Negeri 4 Bungo. Dan waktu pelaksanaannya sesuai dengan dengan jadwal mengajar yaitu pada tanggal  25 Oktober 2019 dan 28 Oktober 2019.

3.1.3 Kondisi awal

Siswa Kelas IX C MTs Negeri 4 Bungo  berjumlah  26 orang yang terdiri dari 12 orang laki-laki dan 14 orang perempuan. Dalam setiap kegiatan pembelajaran  Bahasa Inggris selalu diupayakan semaksimal mungkin menggunakan bahasa inggris  sebagaia bahasa komunikasi walaupun kadang masih di  terjemahkan (translate) ke dalam bahasa Indonesia.  Namun dari  26 siswa tersebut hanya  38,46% siswa yang dapat dan mau merespon  dengan menggunakan bahasa Inggris, yaitu berjumlah 10 orang. Sedangkan yang tidak bisa dan tidak mau merespon  berjumlah 6 orang atau  23,1%. Selebihnya mau mersepon tetapi menggunakan bahasa Indonesia.

Adapun alasan mereka yang tidak mau merepon dan yang merespon menggunakan bahasa Indonesia adalah, karena kurang percaya diri, malu , takut salah dan memang merasa kurang mampu.

3.2  Metode yang di gunakan

 

Metode yang di gunakan dalam penelitian ini adalah model pembelajaran demonstration, dengan  langkah-langkah sebagai berikut:

Pertemuan  Pertama

  1. a) Merumuskan tujuan yang harus dicapai oleh peserta didik setelah proses demonstrasi berakhir. Tujuan ini meliputi beberapa aspek seperti aspek pengetahuan dan keterampilan tertentu.
  2. b) Mempersipakan garis-garis besar langkah-langkah demonstrasi yang akan dilakukan. Hal ini dilakukan untuk menghindari kegagalan.
  3. c) Meminta siswa untuk memperhatikan dan mencatat hal-hal penting yang berkaitan materi dan pelaksanaan kegiatan demontrasi.
  4. d) Menyiapkan alat dan bahan, yaitu: kopi bubuk, gula pasir , air panas, sendok dan cangkir.
  5. e) Penulis melakukan aksi demonstrasi di depan kelas bagaimana cara membuat secankir kopi.
  6. F) Penulis membagi kelas dalam kelompok kecil .

Pertemuan kedua

  1. Mengatur tempat duduk secara kelompok dan memastikan peserta didik dalam keadaan senang dan nyaman.
  2. Mengecek Alat dan bahan yang dipersiapkan peserta didik untuk demonstrasi.
  3. Membuat dan membagi nomor undian  .Hal ini untuk menghindari kecemburuan dan keributan di dalam pelaksanaan.
  4. Meminta kelompok untuk melaksanakan demontrasi berdasarkan nomor urut undian.
  5. Penulis  mengamati  , mengapresiasi dan mengambil penilaian.

3.3  Tahap pelaksanaan

 

          3.3.1.Perencanaan

Tahap perencanaan merupakan tahap awal yang berupa kegiatan untuk menentukan rencana yang akan dilakukan oleh peneliti untuk memecahkan masalah yang akan dihadapi di lapangan saat melakukan penelitian.

Setelah mengidentifikasi masalah,maka penulis:

a)Memilih metode yang sesuai.

b)Menentukan langkah-langkah kegiatan

c)Menentukan jadwal pelaksanaan

d)Mempersiapkan alat dan bahan .

e)menyiapkan lembar observasi

3.3.2.Observasi

Observasi atau pengamatan langsung keadaan dan situasi di lapangan sebelum melakukan tindakan.  Observasi dilakukan oleh peneliti yang sekaligus guru matapelajaran bahasa inggris kepada siswa kelas IX C.

Obserservasi yang dilakukan berkaitan dengan kondisi kesiapan sikap mental  siswa, keadaan ekonomi dan  kemampuan akademik.

3.3.3. Tindakan

Penulis menerapkan model pembelajaran demonstration  dalam  materi pelajaran procedure text .Penulis memmilih materi tersebut karena  di pandang kompleksitasnya lebih rendah sehingga bisa  di sesuaikan dengan intake peserta didik. Dan materi tersebut bisa di sajikan dengan lebih enjoy tanpa penekanan. Lagi pula dalam meteri procedure text menyajikan langkah –langkah kegiatan  . sehingga  peserta didik akan  lebih mudah dalam beraksi melalui model pembelajaran  demonstrstion   secara  langsung.

Adapaun tindakan yang penulis lakukan adalah:

Pertemuan pertama

Setelah  membuka  pertemuan, berdo’a,  apersepasi dan memotivasi, dan mengecek kesiapan peserta didik, Menyampaiakan tujuan pembelajaran,  menjelaskan materi pelajaran ,  penulis  memulai dengan mendemontrasikan Bagaimana cara membuat secangkir kopi  didepan kelas.

How to make a cup a coffee”

To make a cup of coffee, we need, sugar (sambil menunjukkan gula),coffee powder ( menunjukkan bubuk kopi), hot water (menujukan air panas), a cup ( menunjukkan sebuah cangkir )and a spoon (menujuukan sebuah sendok).

Selanjutnya penulis mengambil satu sendok gula dan di masukkan ke dalam gelas sambil mengatakan(first, add a spoon full of sugar into the cup), kemudian mengambil setengah sendok kopi bubuk dan di masukkan ke dalam cangkir yang sama sambil mengatakan ( then, add a half spoon of coffee powder into the cup), setelah itu penlis menuangkan air panas ke dalam cangkir dengan perkataan (after that, pour hot water into the cup), terakhir penulis mengaduk isi cangkir dengan sebuah sendok sambil mengatakan (finally, mix it with a spoon),a cup of coffee ready to drink. Hmmm.yummmy.(segelas kopi siap untuk di minum. Hmm.Nikmat)

Perkataan penulis berbahasa inggris tersebut kemudian di tulis di papan tulis, dan menjelaskan tentang kalimat imperative.

Pada  pertemuan pertama tersebut  peserta didik benar-benar menikmati pertunjukan demontrasi. Mereka mengikuti dengan rasa senang , bahkan ada yang ingin mencoba saat itu juga.

Akhir pertemuan pertama ,penulis  membagi kelas dalam kelompok yang terdiri dari 2-3 orang . Tujuan pembagian keompok  adalah untuk membangun rasa percaya diri siswa. Lalu meminta peserta didik dalam kelompok  untuk merencanakan (membuat program) serta menyiapkan alat dan bahan  apa yang akan di demonstrasikan pada pertemuan selanjutnya.

Pertemuan kedua

Pada pertemuan ini penulis tetap melaksanakan langkah-langkah pembelajaran  seperti, berdoa, apersepsi  dan motivasi, membangun rasa percaya diri  siswa,  menyampaikan tujuan pembelajaran, mengecek kesiapan dan persiapan siswa termasuk mengatur tempat duduk serta  alat dan bahan yang akan di demontrasikan.

Setelah masing-masing kelompok mmperoleh tiket undian , selanjutnya penulis  meminta siswa secara berkelompok  sesuai dengan nonor tiketnya untuk  mendemontrasikan  bagaimana cara membuat sesuatau tergantung  dari tema masing –masing kelompok dengan alat dan bahan yang mereka persiapkan sendiri.

Nonor undian pertama mendemontrasikan bagaimana cara membuat secangkir teh.Alat dan bahan yang mereka  gunakan adalah satu sacet the celup, gula pasir , air panas,  sebuah cangkir dan sebuah sendok. Siswa pertama membuka kegiatan dan memulai dengan menggunakan bahasa inggris  sambil mendemontrasikan  langkah-langkah membuat secangkir the. Siswa kedua melanjutkan demontrasi  sampai cecangkir the siap di hidangkan serta menutup kegiatan demontrasi mereka dengan menggunakan bahasa inggris, persis seperti yang penulis  demontrasikan pada pertemuan pertama.

Penulis memberikan apresiasi kepada  kelompok tersebut walaupun  pengucapan (pronouciation)nya masih kurang sempurna. Tepuk tangan meriah juga di berikan oleh kelompok yang lain.

Demontrasi dilanjutkan oleh kelompok nomor undian  dua, mereka mendemontrasikan bagaimana cara membuat kapal dari kertas. Mereka menggunakan bahan satu lember kertas. Mereka melakukannya sama seperti kelompok sebelumnya.

Kegiatan demontrasi  berlanjut sampai semua kelompok kebagian waktu dan dapat melakukan demontrasi dengan baik. Mereka melakukan demontrasi dengan senang dan penuh rasa percaya diri. Meskipun pengucapan (pronounciation) mereka masih banyak yang kurang tepat.

Penulis mengamati, mengapresiasi dan memberi penilaian terhadap kegiatan  tersebut. Lalu penulis menutup kegiatan pembelajaran dengan memberikan pujian dan acungan jempol kepada semua siswa tanpa menyebutkan kesalahan atau kekurangan mereka.

Setelah melaksanakan aksi demonatrasi, para siswa sudah memeiliki rasa percaya diri, sehingga memiliki kemauan dan termotivasi untuk  membiasakan diri berbicara berbahasa inggris, khususya pada saat belajar bahasa inggris, kepada guru bahasa inggris dan kepada teman-temannya.

Dan tetap di anjurkan untuk selalu mengguanakannya dalam kehidupan sehari-hari baik di sekolah di rumah maupun di masyarakat.

3.3.4.Hasil yang dicapai

Berdasarkan Hasil penelitian , diperoleh data  sebagaimana tertera dalam table berikut :

Tabel Tentang keadaan siswa   selama kegiatan pembelajaran bahasa inggris serta persentase kenaikan dan penurunan jumlah sebelum dan sesudah penelitian.

NO

KEADAAN SISWA

DATA AWAL (sebelum)

DATA AKHIR (sesudah)

PERSENTASE KENAIKAN/

PENURUNAN

Jumlah

Persentase

Jumlah

Persentase

1

Siswa yang mau merespon Menggunakan bahasa inggris

10

38,46%

18

69,23%

Naik

30,77 %

2

Siswa yang merespon tetapi menggunakan bahasa indonesia

10

38,46%

8

30,77%

Turun, 7,69%

3

Siswa yang tidak mau merespon

6

23,1 %

0

0%

 Turun

23,1 %

 

Sebelum di lakukan penelitaian, jumlah siswa kelas IX C  yang mau merespon dengan menggunakan bahasa Inggris berjumalh 10 orang  dari 26 siswa Atau 38,46 %. Siswa yang merespon tetapi menggunakan bahasa Indonesia berjumlah 10 orang sedang kan siswa tang tidak mau pmerespon adalah  6 orang. Atau 23,1 %

Setelah di lakukan perbaikan  yaitu dengan melakukan aksi demontrasi, terjadi kenaikan yang cukup mengembirakan. Yaitu  69, 23% siswa yang mau merespon dengan menggunakan bahasa inggris . in artinya mengalami peningkatan sebesar  80 %  dari sebelumya. Sedangkan siswa yang yang merespon dengan menggunakan bahasa Indonesia mengalami penurunan sebesar 20 %  , atau 8 oang daro 10 orang pada data awal. Dan yang lebih menggembirakan lagi adalah siswa yang semula tidak mau merespon sama sekali , mengalami penurunan sebesar   100%. Yang artinya dari 26 siswa kelas IX C  sudah mau merespon walaupun dengan pengucapan ( pronounciation)  dan kosa  kata (Vocabilary) serta struktur bahasa yang kurang tepat.

Dan dengan aktifnya mereka menggunakan  bahasa inggris dalam kehidupan sehari –hari telah membuktikan bahwa mereka sudah memiliki rasa percaya diri, tidak takut salah dan malu lagi.

   Ini menunjukaan bahwa penerapan model pemebelajaran Demonstration  di samping dapat membangun rasa percaya diri  juga dapat meningkatkan ketrampilan berbicara  bahasa inggris siswa kelas IX C MTs N 4 Bungo.

 

3.3.5.Faktor Pendukung Dan Penghambat

  1. a) Faktor Pendukung.

Dalam pelaksanaan best practice ini penulis di dukung oleh beberapa factor, di antaranya adalah:

  1. Kemauan dan minat peserta didikk yang cukup tinggi.
  • Bahan dan alat belajar mudah di dapat.
  1. Dukungan dari Kepala Madrasah dan rekan majelis guru..

b)Faktor penghambat.

  1. Beberapa peserta didik tidak punya kamus.
  • Minimnya sarana- dan prasarana sehingga peserta didik harus menyediakan sendiri,

3.3.6. Tindak lanjut

Setelah melihat hasil penelitian yang cukup memggembirakan, maka di harapkan  penerapan model pembelajaran demonstrasi tersbut dapat pula di terapakan pada  kegiatan pembelajaran yang berbeda, atau  di terapkan pada mata pelajaran yang lain. Dan tidak menutup kemungkinan untuk di adakan kompetesi dalam kegiatan aksi demonstrasi berbahasa inggris.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV PENUTUP

4.1          Kesimpulan

Kegiatan aksi  demonstrasi yang dilakukan secara berkelompok dapat membangun rasa percaya diri  dan lebih komunikatif, sehingga siswa mulai  terbiasa berbicara bahasa inggris    khususnya pada kegiatan belajar mengajar  pada mata pelajaran bahasa Inggris , kepada guru bahasa inggris dan teman –temanya.

 Model pembelajaran demonstration  dapat meningkatkatkan ketrampilan   berbicara  bahasa inggris  siswa kelas IXC MTs N 4 Bungo dengan lebih baik di bandingakan sebelumnya.  Yang semula hanya 10  siswa yang mau dan mampu merespon dengan menggunakan bahasa inggris  meningkat menjadi 18 0rang. Ini artinya terjadi kenaikan sebesar 80 %. Sedangkan yang  awlanya tidak mau merepon  terdapat 6 orang maka setelah melakukan aksi demonstrasi semua aktif dan mau merespon meskipun  penguvapan (pronounciation) dan   strukturnya bahasa kurang tepat.

Jdi jelaslah bahwa model pembelajaran demonstration   dapat membangun rasa percaya diri  peserta didik , sehingga  siswa terbiasa menggunakan bahasa inggris dalam percakapan sehari –hari.

Model pembelajaran demonstration juga  dapat meningkatkatkan ketrampilan   berbicara  bahasa inggris  siswa kelas IX MTs N 4 Bungo dengan lebih baik di bandingakan sebelumnya. Karena    dengan   rasa percaya diri yang sudah  terbangun dan kebiasaaan berbicara bahasa inggris  yang sudah terbentuk maka  tercipta suasana yang komunikatif   baik antar siswa  maupun antara siswa dengan guru dan orang-orang di sekitarnya.

4.2          Saran

Dalam proses belajar, tentu tidak terlepas dari tujuan pembelajaran. Untuk itu dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran ,pemilihan metode atau strategi pembelajaran  sangat penting. Dan pemilihan metode atau model pembelajaran tersebut hendaknya  sesuai dengan materi dan tujuan yang hendak di capai.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Elizaberth, E. (2017, nov 6). Retrieved nov 2, 2019, from https://www.cekkembali.com/pengetahuan-vs-keahlian/

Ibeng, P. (2020, November 27). Retrieved Novemebr 2, 2019, from https://pendidikan.co.id/pengertian-keterampilan-macam-contoh-dan-men

majid, A. (2015). In Perencanaan Pembelajaran. Bandung: Remaja Roda Karya.

Riadi, M. (2013, Juni 03). Retrieved November 3, 2019, from https://www.kajianpustaka.com/2013/06/pengertian-tujuan-dan-tes-kemampuan.html

Roestiyah. (2001). In Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka cipta Sagala.

Tips, t. (2020, April 6). Retrieved November 3, 2019, from Educationb Advice: https://www.ef.co.id/englishfirst/kids/blog/pentingnya-belajar-bahasa-inggris-untuk-masa-depan/


Go Back To Home

Jadwal Sholat

Untuk Wilayah Kab. Bungo dan Sekitarnya

Memuat tanggal...

Imsak--:--
Subuh--:--
Terbit--:--
Dhuha--:--
Dzuhur--:--
Ashar--:--
Maghrib--:--
Isya--:--

Peta Lokasi MTS Negeri 4 Bungo

Mars Madrasah